IBU

May 11th, 2007 by alghifary

IBU
Suatu hari


seorang bayi siap untuk dilahirkan ke  dunia.  Dia


bertanya kepada Tuhan :





"

Para

 malaikat disini


mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana
cara saya hidup disana,saya begitu 
kecil dan lemah"?



  Dan Tuhan


menjawab, " Aku  telah memilih satu malaikat untukmu dan Ia akan menjaga dan


mengasihimu."



  "Tapi disini, di dalam surga, apa yang pernah saya lakukan


hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk


berbahagia."



  "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap


hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih


berbahagia."



  "Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara


kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka ?"



  "Malaikatmu akan


berbicara kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar;


dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana


cara kamu berbicara."



  "Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin


berbicara kepadaMu ?"



  "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu


berdoa."



  "Saya mendengar bahwa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang


akan melindungi saya ?"



  "Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal


tersebut mungkin dapat mengancam jiwanya."
  "Tapi, saya pasti akan merasa


sedih karena tidak melihatMu lagi."



  "Malaikatmu akan menceritakan padamu


tentang Saya, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali


kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."
  
  


Saat itu Surga begitu tenangnya


sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan sang anak bertanya


perlahan,



  "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Kamu


memberitahuku nama malaikat tersebut ?



  "Kamu akan memanggil malaikatmu,:





“ IBU 


Semua Karena Cinta

May 4th, 2007 by alghifary

Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat
di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat
berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia
satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak
alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya
mengejar bis

kota

, sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan
asap hitam di wajah wanita pengamen itu.

Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk
menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan
pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis
lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya
bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis

kota

. Yang ia
tahu hanyalah, terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan,
asap knalpot, aroma bis

kota

, tatapan iba, dan juga makian
penumpang yang terganggu oleh hingar musik ibunya. Semua itu menjadi
sahabat sehari-hari si kecil.

Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang,
Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tiga
tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman
aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor
pasar; penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson
mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani
pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.

Anak pasar itu -kalau boleh disebut begitu- tak pernah tahu sebab
apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia
tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah-
tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan
melihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun
dan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin
pagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar
becek lah yang kerap mengakrabinya.

Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di

Bogor

naik turun KRL (kereta
api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik,
padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah
mengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela
menanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak
juga tak pernah bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”

Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya
yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya
memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki
saat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa di
setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si
kecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan
bahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang
kereta, demi sekeping receh yang diharapnya.

***

Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejar
bis

kota

, mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi
gerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah
jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan
wajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa
kalbu ibu berkata, “sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”.

Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah
yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa”
dalam kamus hidup seorang ibu.